BAB kadar MDA serum darah dari hewan coba.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil dan Analisis Data

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

          Uji pendahuluan dilakukan dua minggu
sebelum uji perlakuan.Jumlah sampel dalam uji ini yakni 6 ekor hewan coba yang
diinduksi fraktur tulang. Induksi fraktur tulang terhadap hewan coba
dilaksanakan pada hari pertama dengan cara pematahan tulang femur dekstra.
Proses pematahan tulang membutuhkan anestesi general terlebih dahulu. Ketamin
menjadi bahan anestesi yang diinjeksikan pada hewan coba sebelum perlakuan.             

          Tujuan uji pendahuluan yaitu
menentukan teknik pembidaian yang efektif untuk dipakai pada uji perlakuan.Hal
ini dimaksudkan untuk meminimalisir komplikasi fraktur, misalnya sindroma
kompartemen, yang diakibatkan oleh teknik bidai yang tidak tepat.Di akhir uji
pendahuluan dilakukan observasi tungkai yang dibidai.Penerapan teknik bidai
tungkai dengan menggunakan leukodur akhirnya dipilih sebagai metode bidai yang
efektif untuk uji perlakuan.

          Penelitian dilanjutkan pada uji
perlakuan.Kelompok pada uji perlakuan dibagi menjadi dua
macam, yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan ekstrak. Kelompok control
terdiri dari kelompok control negatif dan kelompok control positif. Kelompok
perlakuan ekstrak terbagi berdasarkan dosis pemberian ekstrak pada hewan coba.
Setiap kelompok terdiri dari 6 ekor hewan coba, jumlah total sampel yaitu 30
ekor hewan coba. Induksi fraktur tulang dilakukan pada hari pertama. Cara
pematahan tulang sama dengan uji pendahuluan yaitu dengan induksi manual.
Konfirmasi fraktur dengan pemeriksaan fisik berupa adanya false movement dari
tulang yang difraktur dan pemeriksaan radiologis.Adapun
hasil konfirmasi fraktur dengan rontgen sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

         

 

                  Gambar 4.1 Hasil rontgen tikus yang di
fraktur (lingkaran putih)

 

          Pasca induksi fraktur, kegiatan
selanjutnya ialah pemberian perlakuan pada semua kelompok selama satu minggu.
Kelompok control negatif diberi aquades, kelompok control positif diberi
vitamin C dosis 2mg per-hari, kelompok perlakuan 1 diberi ekstrak dosis 35,4
mg/150BB, kelompok perlakuan 2 diberi ekstrak dosis 70,8 mg/150BB, kelompok
perlakuan 3 diberi ekstrak dosis 141,6 mg/150BB.

          Semua kelompok dibidai dengan leukodur
setelah induksi pematahan berhasil terlaksana. Semua kelompok diberi perlakuan
dengan cara penyondean. Selama fase perlakuan berlangsung, seluruh hewan coba
diberikan pakan dan minuman secara normal. Pada akhir penelitian dilakukan
pemeriksaan kadar MDA serum darah dari hewan coba. Data observasi MDA sesudah
perlakuan dapat dilihat pada lampiran .

          MDA merupakan indikator yang penting
dalam menilai tingkat ROS.Rata-rata MDA serum semua kelompok dapat dilihat pada
tabel 4.1.Hasil rata-rata dan standar deviasi MDA masing-masing
kelompok didapatkan untuk kelompok K(-)sebesar 5.96 ±0.170383, kelompok K(+)sebesar 3.65 ±0.351134,kelompok K1sebesar 4.34 ±0.189821, kelompok K2 sebesar 4.06 ±0.280107, kelompok K3 sebesar 3.73 ±0.114752. Kelompok K(-) dengan pemberian
tween 80 1% memiliki rata-rata kadar MDA serum tertinggi, yaitu 5,96 nmol/ml. Sedangkan
kelompok K(+) dengan pemberian vitamin C 2 mg memiliki rata-rata kadar MDA
serum terendah, yaitu 3,65 nmol/ml.

Tabel 4.1 Rata-rata dan standar deviasi MDA tiap
kelompok

No.

Perlakuan

Rata-rata±Standar
Deviasi

1.

Kontrol
Negatif

5.96 ±0.170383

2.

Kontrol
Positif

3.65 ±0.351134

3.

Kelompok 1

4.34 ±0.189821

4.

Kelompok 2

4.06 ±0.280107

5.

Kelompok 3

3.73 ±0.114752

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil penelitian yang telah
didapatkanselanjutnya dilakukan analisis data statistik dengan tingkat
kepercayaan 95% (?=0,05). Hasil rata-rata kadar MDA serum
dianalis persebaran data dan homogenitasnya menggunakan uji Saphiro-Wilk dan Levene’s test. Hasil kedua analisis tersebut menunjukkan bahwa
p>0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data terdistribusi normal dan memiliki
varian yang sama. Hasil rata-rata
degenerasi protein tau kemudian dianalisis menggunakan One Way Anova untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antar
kelompok. Hasil uji Shapiro-Wilk dan Levene’s Test bisa dilihat pada Tabel 4.2 dan 4.3.

 

Tabel 4.2.
Hasil uji Shapiro-Wilk

 

KELOMPOK

Kolmogorov-Smirnova

Shapiro-Wilk

 

Statistic

df

Sig.

Statistic

df

Sig.

MDA

NEGATIF

.196

6

.200*

.961

6

.829

POSITIF

.249

6

.200*

.914

6

.462

PERLAKUAN 1

.189

6

.200*

.923

6

.524

PERLAKUAN 2

.151

6

.200*

.951

6

.751

PERLAKUAN 3

.208

6

.200*

.916

6

.474

 

 

Tabel 4.3. Hasil uji Levene’s Test

 

Levene Statistic

df1

df2

Sig.

 

2.311

4

25

.086

 

  

Setelah didapatkan data berdistribusi
normal dengan hasil uji Shapiro-Wilk
mempunyai nilai signifikansi
melebihi0,05 pada semua kelompok danLevene’s Test mempunyainilai signifikansi sebesar 0,086 maka dilanjutkan
dengan uji One Way Anova untuk mengetahui adanya perbedaan yang
signifikan antar kelompok penelitian. Hasil uji One Way Anova dapat
dilihat pada Tabel
4.4.

Tabel 4.4. Hasil uji One Way Anova

 

Sum
of Squares

Df

Mean
Square

F

Sig.

Antar kelompok

21,296

4

5,324

95,076

0,000

Dalam kelompok

1,400

25

0,056

 

 

Total

22,696

29

 

 

 

*Perbedaan rata-rata signifikan p

x

Hi!
I'm Barry!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out